Jangkrik dan Nostalgia Masa Kecil saat Musim Hujan

Warga Desa Wanarejan Utara, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Adi Purwana menunjukkan jangkrik dagangannya. FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI
Iklan kamu disini!

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Makhluk mungil jenis serangga ini seakan menjadi pertanda dan pelengkap beralihnya musim kemarau ke musim penghujan. Suaranya yang muncul selepas hujan reda, bersahutan dengan suara kodok, menjadi paduan suara alami yang akrab di telinga.

Adalah jangkrik, serangga mungil yang khas dengan suara “krik krik krik” dari gesekan sayapnya. Bagi generasi milenial yang lahir di tahun 90-an maupun 2000 awal, pastinya akan diajak bernostalgia ketika mendengar nama serangga yang satu ini.

Dahulu, anak-anak sering menjadikan jangkrik sebagai hewan aduan. Ada pula yang memelihara untuk sekedar dinikmati suaranya. Konon, suara jangkrik ampuh untuk mengusir tikus.

Meski sudah memasuki era digital, di mana anak-anak lebih asyik dengan internet dan gadget. Ternyata, jangkrik juga masih diminati, dan memiliki daya tarik tersendiri. Khususnya, di daerah pedesaan, seperti di Desa Wanarejan Utara, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang.

Salah satu penjual jangkrik di Desa setempat, Adi Purwana (41), mengatakan, peminat jangkrik bukan hanya dari kalangan anak-anak, melainkan juga dari orang dewasa. Mereka biasanya membeli jangkrik untuk mengusir tikus di rumahnya.

“Saya sendiri jualan jangkrik buat sampingan, ya juga buat hiburan. Pekerjaan sehari-hari sopir angkut sembako, nah buat ngisi kegiatan ya jualan jangkrik di rumah. Jangkrik ini kan musiman, tapi ada juga yang ternak,” kata Adi.

Jangkrik yang dijual Adi merupakan hasil buruan di perkebunan dan persawahan Desa Danasari, Pemalang. Biasanya, Ia berangkat berburu jangkrik atau istilahnya “ngobor” sekitar pukul 22.00 WIB.

“Peralatan yang dibawa ya senter kepala, terus wadah jangkriknya. Caranya masing-masing, kadang ada yang cuma masang lampu biar jangkrik datang sendiri, kalau di persawahan itu ya harus digali. Biasanya pulang sampai pagi, ya tergantung hasilnya,” kata Adi sambil mengelitiki jangkrik dengan rumput kering agar marah dan berbunyi.

Ada dua jenis jangkrik yang dijual Adi, yaitu jalibang dan jaliteng. Secara fisik perbedaan antara jalibang dan jaliteng terletak pada warnanya. Jalibang berwarna merah bata, sedangkan jaliteng berwarna hitam. Agar kotorannya tidak bau, Adi memberi makan jangkriknya jagung putren.

“Harganya ya masing-masing, tergantung diameter jaduk atau taringnya, ada ukuran 7 sampai 10 milimeter. Kalau untuk aduan kan biasanya milih yang ukuran taringnya besar, harganya ya mulai dari Rp7.000 sampai Rp15.000,” kata Adi.

Selain menjual di rumah, Adi juga memasarkan jangkrik-jangkriknya di media sosial. Ia mengaku hal itu sangat membantu, buktinya banyak pembeli yang datang dari luar desa setelah melihat postingannya di Facebook. Bahkan, ada juga pemesan dari luar daerah.

Penulis: Eriko Garda Demokrasi
Editor: Faisal M

Iklan

Tinggalkan Balasan