37 Kasus Kekerasan Anak di Brebes Didominasi Kekerasan Seksual

ILUSTRASI/PUSKAPIK/CANDRA SUCIAWAN
KLIK Untuk Ikut Polling sekarang!

PUSKAPIK.COM, Brebes – 20 dari 37 kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Brebes, hingga Juni 2020 ini adalah kasus kekerasan seksual.

Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3KB) Brebes, Rini Pujiastuti menjelaskan, 37 kasus kekerasan terhadap anak ini terdiri dari kekerasan fisik 13 kasus, kekerasab psikis 2 kasus dan kekerasan seksual 20 kasus dan penelantaran 2 kasus.

“Ini yang kasus yang dilaporkan ke kami. Ada 37 kasus untuk tahun 2020 sampai akhir Juni. Paling banyak adalah kekerasan seksual dengan angka 20 kasus,” ungkap Rini Kamis 23 Juli 2020 siang.

Jumlah kasus kekerasan terhadap anak ini sedikit turun dibanding periode sama pada Januari-Juni tahun 2019 lalu. Dimana dalam periode itu terjadi 40 kasus kekerasan terhadap anak. Lagi lagi kasus ini didominasi oleh kekerasan seksual.

Dari kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani pemerintah, kebanyakan pelaku adalah orang terdekat korban. Seperti ayah, kakek, paman atau tetangga.

Rini menambahkan, kendala penanganan kasus kekerasan adalah mayoritas korban takut melaporkan ke pemerintah. Hal itu lantaran ada ancaman dari pelaku terhadap korban yang jika berani melaporkan kekerasan yang dialaminya.

“Korban takut melaporkan, biasanya diancam. Kalau para korban ini berani melaporkan, mungkin kasus kekerasan anak bisa terungkap dan jumlahnya lebih banyak. Jadi yang tercatat di data kami itu kasus yang korbannya atau orang terdekat korban berani lapor,” lanjut Rini.

Alasan lain korban tidak berani lapor adalah karena pelaku adalah keluarga sendiri. Mereka takut dampak selanjutnya bila pelaku diproses dan ditahan.

“Bila pelakunya kepala keluarga, mereka berpikir siapa nanti yang kasih nafkah keluarganya dia,” sambung Rini.

Rini menambahkan, untuk mengedukasi masyarakat terkait perlindungan perempuan dan anak, pihaknya melakukan serangkaian sosialisasi kepada masyarakat dengan menggandeng sekolah, kepala desa, dan Tim Penggerak PKK tingkat desa, hingga organisasi kemasyarakatan (Ormas). Sebab, penanganan kasus kekerasan butuh peran serta masyarakat.

Kontributor : Fahri Latief
Editor : Amin Nurrokhman

Iklan

Tinggalkan Balasan